Selasa, 14 Februari 2012

SEKS DAN OBESITAS ADAKAH HUBUNGANNYA?????????





Kegemukan (obesiti) boleh menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, antara lain masalah seks dan kesuburan. Jika ingin persoalan seksual itu segera terselesaikan, atasi kegemukan Anda. Selain secara konvensional, obesiti juga bisa diatasi dengan operasi bypass lambung.

 Dikatakan oleh Dr. Indra Gusti Mansur,DHES, Sp.And, dari Klinik SamMarie Jakarta, obesiti dapat menyebabkan halangan (karena pengaruh fisik) dalam kontek seksual.

"Pada lelaki penumpukan lemak yang berlebihan di daerah pubis sering menyebabkan penis seakan-akan tidak menonjol, kelihatan lebih pendek dan kecil sehingga menghalang penetrasi," katanya. Dengan keadaan itu, lelaki dengan obesiti cenderung akan bertindak pasif. Hal ini tentu dapat mempengaruhi hubungan seksual suami dan isteri.

Jumlah Sperma Sedikit
Selain pengaruh fizik, terjadi juga gangguan pada metabolisme androgen yang berkaitan dengan spermatogenesis.
Menurut Dr. Indra, "Pada lelaki obesiti, juga boleh terjadi jumlah sperma yang dihasilkan berada di bawah normal. Bahkan boleh tidak diproduksi sama sekali." Dengan kata lain, obesiti pada lelaki dapat menghalang fungsi hormon testis.

Pengaruh ketidaksuburan akibat obesiti terjadi pada laki-laki dan perempuan. Penelitian tentang hubungan antara obesiti dan kesuburan sudah banyak dilakukan dengan hasil yang mendukung.

Dikatakan oleh DR. Dr. Elvina Karyadi, MSc., perempuan obesiti biasanya mengalami anovulatory chronic atau haid tidak teratur secara kronik. "Hal ini mempengaruhi kesuburan, di samping juga faktor hormon yang ikut berpengaruh," kata dokter ahli pemakanan dari Seameo-Tropmed UI ini.

Perubahan hormon atau perubahan pada sistem reproduksi boleh terjadi akibat timbunan lemak pada perempuan obesiti. "Timbunan lemak itu merangsang pembuatan hormon, terutama estrogen," jelas Dr. Yanto Kadarusman, Sp.OG-KFER, konsultan fertilitas dari FKUI-RSCM Jakarta.

Normalnya, pada usia reproduksi  hormon estrogen ini berasal dari ovari. Selain sebagai penghasil gamet atau ova, ovari juga berperanan sebagai organ endokrin karena menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Hanya saja, pada perempuan obesiti, estrogen ini tidak hanya berasal dari ovari tapi juga dari lemak yang berada di bawah kulit.

"Lemak bawah kulit itu berisi kolesterol, dan lemak Ini digunakan oleh badan untuk hasilkan estrogen," ujar Dr. Yanto. Maksudnya, estrogen yang berasal dari luar ovari ( dihasilkan daripada tindakbalas lemak dari bawah kulit)  cukup banyak dibuat. Padahal dari dalam ovari sendiri belum banyak estrogen yang terbentuk.

Hal ini lalu menyebabkan keluarnya luitenizing hormone (LH) sebelum waktunya. LH yang terlalu cepat keluar menyebabkan telur tidak boleh pecah  kerana telur dalam ovari belum cukup matang dan progesteron tidak terangsang, sehingga pada suatu waktu siklusnya menjadi tidak betul. Kejadian ini bisa dilihat dari siklus haid yang tidak teratur, jumlah haid yang keluar cukup banyak, dan juga masa haid yang lebih lama.

Tumbuh Banyak Bulu!
LH yang keluar terlalu cepat akan merangsang keluarnya hormon androgen. Pada siklus normal, hal ini tidak terlalu masalah, karena hormon androgen akan diubah menjadi estradiol.untuk keterangan lebih lanjut lihat laman di bawah:
http://en.wikipedia.org/wiki/Luteinizing_hormone

Pada perempuan obesiti, androgen yang keluar terlalu cepat tidak akan diubah menjadi estradiol. Mengapa? Karena hormon androgen yang keluar itu yang tidak berikat. "Inilah yang akan membuat sel telur tidak berkembang. Akibatnya ovulasi tidak terjadi," tandas Dr. Yanto.

Tingginya hormon androgen pada perempuan bisa dikenali dengan berkembangnya seks sekunder. "Timbulnya kumis, pertumbuhan bulu yang banyak, dan banyak jerawat. Metabolisme karbohidrat yang terjadi juga akan diubah menjadi lemak, sehingga orang akan semakin gemuk," ujarnya.

Masalah lain yang juga akan timbul pada penderita obesiti adalah insulin resistance. Apa hubungannya dengan ketidaksuburan? Menurut Dr. Yanto yang banyak menangani masalah kesuburan ini, "Insulin tidak mampu memasukkan gula secara lancar ke ovari, karena reseptornya ada yang rusak.. Pertumbuhan sel telur juga jadi tidak bagus atau bahkan akan berhenti. Inilah yang disebut ovarium polikistik."

Pada lelaki, insulin resistance ini akan menghalang perkembangan sperma. Bila hal ini terjadi, maka penderita akan diberi insulin synthesizer. Reseptor insulinnya dibuat sensitif lagi dengan menggunakan obat-obatan.

Obesiti memang boleh menjadi salah satu faktor terjadinya ketidaksuburan. Namun tentu saja banyak faktor lainnya yang juga turut mempengaruhi masalah tersebut, seperti faktor sperma, saluran telur, ovulasi, infeksi panggul, infeksi vagina, kelainan organik, kemampuan leher rahim dalam menerima sperma, endometrium, dan juga endometriosis.

Untuk mencegah atau mengatasi ketidaksuburan, persoalan obesiti tentu saja harus diatasi lebih dulu. Caranya adalah dengan menurunkan berat badan dan berolahraga.
Ditambahkan DR. Elvina, "Obesiti boleh ditangani dengan berbagai cara. Kombinasi antara diet, olahraga, dan obat-obatan boleh dilakukan, tergantung berapa berat obesitinya."

Bila masih masuk bab overweight, menurut DR. Elvina, kombinasi diet dan olahraga boleh dilakukan dengan intensif dan pengawasan yang ketat. Namun dalam kes obesiti dan ada beberapa komplikasi penyakit , biasanya diberikan obat-obatan untuk menurunkan berat badan.

Waktu yang diperlukan untuk mencapai berat badan normal tidak boleh ditentukan secara umum. "Tergantung masing-masing kes dan individu. Namun yang perlu diingat bahwa penurunan berat badan yang baik adalah 0,5 kg sampai 1 kg per minggu," tuturnya. Penurunan berat badan yang terlalu cepat dan banyak dalam waktu singkat, sangat tidak dianjurkan. @ Diana Yunita Sari

Bentuklah Irama Rasa Lapar..!
Diperlukan motivasi serta disiplin yang kuat untuk melakukan program diet. Setidaknya beberapa anjuran dari Dr. HR Rachmad Soegih, Sp.G., ahli pemakanan dari FKUI Jakarta berikut ini boleh di jadikan panduan:

* Diet yang rasional dan baik. Diet yang dianjurkan adalah diet rendah kalori, adekuat, rendah lemak, seimbang dan ditekankan pada pemilihan menu dari makanan konvensional agar diet mudah dilakukan dalam waktu lama.

* Diet sesuai diagnosa dan keadaan pesakit.

* Keperluan kalori berdasarkan kebiasaan sehari-hari, aktiviti fizikal, usia, dan jenis kelamin.

* Keperluan protein sekitar 15 peratus dari jumlah kalori, atau sekitar 0,8-1,2 g/kg berat badan. Boleh juga disesuaikan dengan keperluan harian yang direkomendasikan (RDA) sesuai umur. Jumlahnya boleh sedikit lebih tinggi dari keperluan
.
* Keperluan lemak adalah 20 persen dari total kalori.

* Mencukupi karbohidrat komplek dan tinggi serat lebih dari 30 gram per hari.

* Minum air putih minimun 2 liter per hari. Maksudnya untuk mengekskresi sisa metabolisme dan membuat perut cepat kenyang.

* Mengurangi jumlah pengambilan makanan dengan membuat jadual makan. Bagi yang jarang makan, frekuensi makan adalah 4 kali sehari. Sedangkan bagi yang suka mengunyah perlu 5 kali sehari.

* Makan sesuai jadual akan membentuk ritme rasa lapar. Rasa lapar harus terjadi pada jam tertentu, sehingga jumlah  makanan dapat dikuasai.

* Ganti karbohidrat yang biasa diambil untuk makan pagi dengan golongan protein. Protein lebih lama tinggal dalam perut dan menyebabkan rasa kenyang yang lebih lama. Buah dan sayuran boleh dijadikan makanan selingan, lebih baik daripada mengambil karbohidrat.


Tiada ulasan:

Catat Ulasan